Khamparan — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 mengalami kenaikan sebesar 0,28% secara bulanan (month-to-month). Kenaikan tersebut dipicu terutama oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan yang mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Dalam laporan yang diumumkan pada 2 Juni 2026, BPS menyebutkan bahwa cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulan ini dengan andil sebesar 0,08%. Selain itu, kenaikan harga minyak goreng dan bawang merah juga turut memberi tekanan terhadap inflasi dengan masing-masing andil sebesar 0,04%.
Tidak hanya itu, harga tomat dan beras yang masih mengalami kenaikan turut mendorong bertambahnya pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan dapur sehari-hari.
Kenaikan harga pangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kondisi cuaca yang memengaruhi hasil panen, distribusi pasokan yang terganggu di sejumlah wilayah, hingga meningkatnya permintaan masyarakat seiring membaiknya aktivitas ekonomi.
Meski inflasi bulanan mengalami kenaikan, secara tahunan (year-on-year/yoy) inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08%. Angka tersebut dinilai masih berada dalam rentang target pemerintah dan Bank Indonesia sehingga kondisi ekonomi nasional masih dianggap relatif terkendali.
Namun demikian, lonjakan harga bahan pokok tetap menjadi perhatian karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat, khususnya kelompok rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas harga pangan.
Pemerintah diperkirakan akan terus melakukan pemantauan terhadap distribusi dan pasokan bahan pangan guna menjaga stabilitas harga dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Pewarta : KK
